PT Vale Indonesia didesak melaksanakan simulasi bencana perihal keberadaan tiga bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) PT Vale Indonesia. Desakan itu berasal dari Anggota DPRD Luwu Timur, Andi Endhy B. Shin Go, Senin (8/10/2018) di Gedung DPRD. Menurut Legislator Partai Persatuan Pembangunan (PPP), selama bendungan PLTA Larona, Karebbe dan Balambano beroperasi, PT Vale Indonesia belum pernah melakukan simulasi bencana kepada masyarakat. “Kalau jebol ini bendungan, nyawa warga yang jadi taruhan Ini pak. Jadi jangan main-main,” katanya Sesuai dokumen Rencana Tindak Darurat (RTD) PT Vale Indonesia, adapun wilayah terkena dampak kegagalan bendungan yaitu Desa Laskap, Pongkeru, Wewangriu, Kelurahan Malili, Pasi-Pasi, Baruga Balantang dan Puncak Indah. Adapun prakiraan warga yang terkena dampak sebanyak 23.354 jiwa dan 6.652 KK sesuai data kependudukan Kecamatan Malili 22 Juni 2016 dan hasil perhitungan. “Diperkirakan pada tahun ini (2018) bertambah dua kali lipat dari data 2016 lalu,” tambah Endhy Menurutnya, warga di daerah yang terkena dampak sebagian besar tidak tahu dimana lokasi atau tempat aman untuk menyelamatkan diri. “Karena memang tidak pernah ada simulasi dimana tempat mana saja yang aman untuk menyelamatkan diri,” ujarnya. Ditambah pula, Endhy melihat belum adanya kejelasan perihal fasilitas evakuasi dalam rangka penunjang penanganan pada saat terjadi keadaan darurat perlu adanya kejelasan keberadaan maupun jumlahnya. Sebelumnya, warga malili khawatir getaran gempa bumi 7.7 skala richter mengguncang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Jumat (28/9/2018) berimbas pada tiga bendungan PLTA PT Vale. Namun dengan sigap Director of External Relations & Corporate Affairs Gunawardana Vinyaman langsung membantahnya, “Hingga 29 September 2018, PLTA PT Vale dinyatakan aman berdasarkan hasil inspeksi. Tidak ditemukan ada kelainan, semua masih dalam kondisi normal,” ungkapnya. (tom)